Oleh: Sutarmin, S.Pd, M.Pd.I
(Sekbid Pembinaan Mental dan Karakter Bangsa PGRI KBB)
Assalamu’alaika, wahai sahabatku.
Kemarin aku membaca kitab Siyar A’lam an-Nubala’. Hingga hari ini, perkataan Abdullah bin Al-Mubarak tentang Imam Malik masih terus terngiang di telingaku. Ia berkata:
“Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih tinggi kedudukannya seperti Malik bin Anas. Ia bukanlah orang yang memiliki banyak puasa dan shalat, tetapi ia memiliki sesuatu yang tersembunyi di dalam hatinya.”
Wahai sahabatku,
Ketika Imam Malik menulis kitab Al-Muwaththa’, orang-orang berkata kepadanya:
“Untuk apa manusia membutuhkan kitab ini, sementara kitab-kitab hadis sudah begitu banyak?”
Beliau menjawab:
“Apa yang dilakukan karena Allah, akan tetap bertahan.”
Dan Imam Malik telah mengabdikan seluruh dirinya untuk Allah. Maka Al-Muwaththa’ pun tetap abadi dan terus dipelajari hingga hari ini.
Wahai sahabatku,
Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah daripada amal kebaikan yang tersembunyi, yang seorang hamba letakkan antara dirinya dan Rabb-nya.
Tidak ada mata yang melihatnya untuk memujinya.
Tidak ada telinga yang mendengarnya untuk menyanjungnya.
Engkau melakukannya dan tidak ada yang ada dalam niatmu selain Allah, karena engkau yakin bahwa tidak ada satu pun amal yang akan disia-siakan di sisi-Nya.
Sedekah yang terus mengalir, yang tidak pernah ditangkap kamera.
Beberapa rakaat di malam hari, sementara keluargamu mengira engkau sedang tidur.
Melunasi utang orang-orang yang kesulitan di toko-toko, tanpa mereka tahu siapa yang telah membayarnya dan tanpa engkau mengenal mereka.
Menanggung kehidupan seorang anak yatim yang tidak akan mengetahui siapa orang yang menanggungnya kecuali kelak pada hari kiamat.
Wahai sahabatku,
Renungkanlah perkataan Imam Malik:
“Apa yang dilakukan karena Allah, akan tetap bertahan.”
Sebuah tulisan yang engkau buat karena mencintai Allah dan membela agama-Nya. Allah kemudian menggerakkan ribuan orang untuk menyebarkannya. Tulisan itu berkeliling ke berbagai penjuru dunia, sementara engkau tetap duduk di rumah.
Sebuah buku yang engkau tulis dan tidak ada dalam pikiranmu kecuali Allah, serta harapan agar Allah menjadikannya sebab bagi seorang pendosa untuk kembali bertaubat, menjadi penghibur bagi orang yang sedang bersedih, menjadi tepukan di pundak orang yang sedang patah hati, dan menjadi petunjuk bagi orang yang kebingungan.
Engkau mungkin meninggal, tetapi Allah tetap membuat buku itu bermanfaat untukmu.
Sebuah pohon yang engkau tanam karena Allah. Allah menjaganya tetap tumbuh kokoh seperti gunung, memberikan keberkahan di dalamnya, dan mengarahkan manusia kepadanya agar pahala terus mengalir kepadamu.
Dahulu ia hanyalah sebuah tanaman kecil. Namun karena ia ditanam karena Allah, ia pun tetap bertahan dan memberikan manfaat.
Sebuah sumur yang engkau gali karena Allah. Bisa jadi balasannya adalah mendapatkan minuman dari tangan Nabi ﷺ.
Tidak ada yang lebih menepati janji daripada Allah.
Sebuah rumah tahfiz yang engkau biayai, padahal engkau sendiri tidak memiliki kemampuan menghafal Al-Qur’an karena keterbatasan daya ingatmu. Allah kemudian menggerakkan orang-orang yang menghafal Al-Qur’an di dalamnya, dan para malaikat mencatat untukmu pahala mereka semua.
Apa yang dilakukan karena Allah, akan tetap bertahan.
Siapa yang menyangka bahwa kitab Riyadhus Shalihin akan dijual dan dibaca di toko-toko buku di Paris dan London?
Namun Allah melihat hati Imam Nawawi, lalu meridhainya. Maka Allah menghidupkan nama dan kitabnya.
Bukan tanpa alasan hati manusia begitu tertarik kepada kitab Madarijus Salikin.
Karena sebelumnya, hati Ibnu Qayyim telah tertambat kepada Allah.
Tidak mengherankan jika Ibnu al-Jauzi telah wafat, tetapi kitabnya Shaidul Khathir tetap hidup dan dibaca manusia.
Barang siapa hidup karena Allah, maka Allah akan menjaganya.
Imam Ahmad pernah berdoa:
“Ya Allah, matikanlah aku dalam keadaan tidak dikenal oleh seorang pun dari makhluk-Mu.”
Namun ketika Allah melihat isi hatinya dan mengetahui bahwa ia tidak menginginkan ketenaran, Allah memang mewafatkannya, tetapi tidak menjadikan manusia melupakannya.
Wahai sahabatku,
Ingatlah selalu:
مَا كَانَ لِلَّهِ يَبْقَى
“Apa yang dilakukan karena Allah, akan tetap abadi.”
Salam untuk hatimu!
Al-faqiir ila rohmatillaahi al-Qodiir, Sutarmin, S.Pd, M.Pd.I, Sekbid Pembinaan Mental dan Karakter Bangsa PGRI KBB


