KUDUS — Pendidikan Indonesia memasuki babak baru dengan diluncurkannya Program STEM Nasional oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) di PAUD Terpadu Kalirejo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, pada 3 September 2026. Mengusung tema “Berani Mencoba, Kreatif Mencipta”, program ini menegaskan pentingnya mengenalkan sains, teknologi, enjinering, dan matematika sejak usia dini. Sumber berita: https://www.instagram.com/ditjen.gtk.kemdikbud/
STEM merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan Science (Sains), Technology (Teknologi), Engineering (Enjinering), dan Mathematics (Matematika) dalam pengalaman belajar yang saling berkaitan. Pendekatan ini tidak sekadar membuat anak mengenal istilah atau menghafal konsep, tetapi mendorong mereka untuk mengamati, bertanya, mencoba, menemukan masalah, mencari solusi, membuat sesuatu, dan belajar dari proses yang mereka jalani.
Bagi pendidikan anak usia dini, STEM justru tidak perlu dipahami sebagai pembelajaran yang rumit. Anak PAUD tidak harus berhadapan dengan laboratorium, komputer canggih, robot, atau peralatan mahal. Sebaliknya, STEM dapat dimulai dari benda-benda yang sangat dekat dengan kehidupan mereka, seperti kardus, botol plastik, sedotan, batu, air, daun, tanah, pasir, dan berbagai benda lain yang ada di lingkungan sekitar.
STEM 5M: Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful
Salah satu gagasan penting dalam Program STEM Nasional adalah prinsip 5M, yaitu Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful. Prinsip ini sekaligus menjawab anggapan bahwa pembelajaran STEM hanya dapat dilakukan oleh sekolah yang memiliki fasilitas lengkap dan anggaran besar.
Mudah berarti guru dapat memulai STEM dari aktivitas sederhana yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Murah berarti tidak harus menggunakan peralatan khusus karena lingkungan sekitar dapat menjadi sumber dan media belajar. Menggembirakan berarti anak belajar melalui bermain, bereksplorasi, mencoba dan mencipta, bukan melalui tekanan untuk menguasai teori.
Sementara itu, mindful mengajak pembelajaran dilakukan dengan kesadaran, perhatian dan keterlibatan anak terhadap apa yang sedang mereka lakukan. Adapun meaningful berarti pengalaman belajar memiliki makna karena berkaitan dengan kehidupan nyata anak.
Dengan prinsip tersebut, STEM sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi guru PAUD. Banyak aktivitas yang selama ini dilakukan guru sesungguhnya sudah mengandung unsur STEM, hanya belum selalu diberi nama atau dirancang secara sadar sebagai pembelajaran STEM.
Guru PAUD Tidak Harus Menjadi Ahli Sains
Hal yang perlu dipahami oleh anggota PGRI, terutama guru PAUD, adalah bahwa penerapan STEM tidak mengharuskan guru menjadi ahli sains, teknologi, enjinering, atau matematika. Peran guru lebih penting sebagai fasilitator yang membangun rasa ingin tahu dan memberikan kesempatan kepada anak untuk menemukan jawabannya sendiri.
Misalnya, guru mengajak anak membuat menara dari gelas plastik atau kardus. Anak dapat diajak berpikir mengapa sebuah bangunan bisa berdiri dan mengapa bangunan tersebut bisa roboh. Mereka kemudian mencoba menyusun kembali, memilih bahan, membandingkan tinggi dan jumlah susunan, serta menghitung benda yang digunakan.
Aktivitas sederhana seperti itu sudah menghadirkan unsur STEM. Contoh praktik di PAUD Terpadu Kalirejo menunjukkan anak dapat membuat miniatur Menara Kudus menggunakan bahan sederhana, menentukan bahan untuk menopang bangunan, menghitung tingkat susunan, sekaligus mengeksplorasi bentuk dan fungsi benda.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan STEM di PAUD bukan seberapa canggih alat yang digunakan, melainkan seberapa besar anak diberi kesempatan untuk berpikir, mencoba, bertanya, berimajinasi, bekerja sama dan menciptakan sesuatu.
Bagaimana Strategi PGRI dalam Mendorong Implementasi STEM?
Sebagai organisasi profesi guru, PGRI memiliki ruang yang sangat strategis untuk membantu anggotanya mempersiapkan diri menghadapi implementasi STEM Nasional. PGRI tidak harus menunggu seluruh program berjalan dari atas, tetapi dapat mengambil peran sebagai mitra pemerintah sekaligus penggerak peningkatan kompetensi guru.
Pertama, PGRI perlu mendorong literasi STEM bagi guru. Banyak guru mungkin sebenarnya telah menerapkan pembelajaran berbasis eksplorasi, proyek, permainan, pemecahan masalah dan lingkungan, tetapi belum memahami bahwa kegiatan tersebut dapat dikembangkan menjadi pembelajaran STEM. Karena itu, kegiatan seperti seminar, lokakarya, komunitas belajar dan berbagi praktik baik dapat menjadi langkah awal.
Kedua, PGRI dapat mengembangkan pelatihan STEM yang khusus disesuaikan dengan karakteristik PAUD. Pelatihan jangan terlalu banyak berisi teori, tetapi lebih banyak memberikan contoh kegiatan yang bisa langsung diterapkan guru. Misalnya membuat jembatan dari stik es krim, menara dari kardus, permainan air, mengamati pertumbuhan tanaman, membuat alat sederhana untuk memindahkan benda, atau mengeksplorasi bentuk dan ukuran.
Ketiga, PGRI dapat membangun gerakan “STEM dari Lingkungan Sekitar”. Setiap guru PAUD didorong untuk menemukan sedikitnya beberapa aktivitas STEM dari lingkungan sekolah dan rumah. Dengan cara ini, keterbatasan sarana tidak lagi menjadi alasan untuk tidak menerapkan STEM.
Keempat, guru perlu didorong untuk mengubah pola pembelajaran dari “memberi tahu” menjadi “mengajak menemukan”. Ketika anak melihat air mengalir, misalnya, guru tidak harus langsung menjelaskan panjang lebar tentang sifat air. Guru dapat bertanya, “Mengapa air mengalir ke bawah?”, “Bagaimana kalau jalannya kita buat berbeda?”, atau “Apa yang terjadi kalau kita menggunakan benda ini?”
Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi anak untuk berpikir kritis dan melakukan eksperimen kecil.
PAUD sebagai Titik Awal Membangun Growth Mindset
Penguatan STEM sejak PAUD juga memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar mengenalkan sains dan matematika. Pada usia dini, yang sesungguhnya sedang dibangun adalah cara anak memandang proses belajar.
Anak perlu dibiasakan bahwa mencoba kemudian gagal bukan sesuatu yang memalukan. Ketika menara yang dibuatnya roboh, misalnya, guru tidak perlu segera memperbaikinya. Anak justru dapat diajak berpikir, “Menurutmu, mengapa menaranya jatuh? Bagaimana supaya lebih kuat?”
Dari situ tumbuh keberanian untuk mencoba kembali. Inilah yang berkaitan dengan growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha, pengalaman, dan proses belajar. Kemendikdasmen sendiri menekankan pentingnya membangun pola pikir tersebut melalui pembelajaran STEM sejak dini.
Jangan Sampai STEM Justru Menjauhkan Anak dari Lingkungannya
Ada satu hal yang perlu menjadi perhatian bersama. Jangan sampai ketika berbicara tentang teknologi, STEM kemudian dimaknai sebatas penggunaan gawai, komputer, robot, atau perangkat digital.
Untuk anak PAUD, lingkungan sekitar justru merupakan laboratorium pertama mereka. Hujan, genangan air, tanaman, batu, tanah, serangga, cahaya matahari, bayangan, bentuk bangunan, kendaraan, pasar, hingga kegiatan memasak di rumah semuanya dapat menjadi sumber pengalaman STEM.
Pendekatan seperti ini juga dapat membantu mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai karena anak memiliki ruang yang lebih luas untuk bergerak, mengamati alam, berinteraksi dengan teman, menggunakan pancaindra, dan menciptakan sesuatu secara langsung. Hal tersebut sejalan dengan arah Program STEM Nasional yang menempatkan pengalaman konkret dan lingkungan sebagai bagian penting pembelajaran anak usia dini.
Dari Guru untuk Masa Depan Indonesia
Program STEM Nasional pada akhirnya bukan sekadar program baru dalam dunia pendidikan. Lebih jauh, program ini merupakan investasi untuk membangun generasi yang memiliki rasa ingin tahu, mampu memecahkan masalah, berani mencoba, mampu bekerja sama, dan kreatif menciptakan sesuatu.
Karena itu, anggota PGRI, khususnya guru PAUD, perlu melihat STEM bukan sebagai beban tambahan. STEM justru dapat menjadi cara baru untuk memperkuat pembelajaran yang selama ini sudah dilakukan guru melalui bermain, bereksplorasi dan berinteraksi dengan lingkungan.
Tantangannya sekarang adalah bagaimana menjadikan STEM sebagai kebiasaan dalam proses pembelajaran sehari-hari. Guru tidak perlu menunggu memiliki alat yang lengkap. Mulailah dari apa yang ada, dari lingkungan terdekat, dari pertanyaan sederhana anak, dan dari keberanian guru untuk mencoba.
Sebab, ketika seorang guru PAUD memberikan kesempatan kepada seorang anak untuk bertanya, mencoba, gagal, mencoba kembali dan akhirnya berhasil menciptakan sesuatu, sesungguhnya pada saat itulah pendidikan sedang menanamkan fondasi bagi lahirnya generasi yang berani mencoba dan kreatif mencipta.
Bagi PGRI, inilah momentum untuk memperkuat peran organisasi profesi sebagai rumah belajar guru. Melalui kolaborasi, peningkatan kompetensi, berbagi praktik baik dan pendampingan yang berkelanjutan, STEM dapat tumbuh bukan sebagai program yang hanya ramai ketika diluncurkan, tetapi menjadi bagian dari budaya pembelajaran di sekolah-sekolah Indonesia.
Kemendikdasmen sendiri telah menyiapkan penguatan kapasitas guru melalui fasilitator nasional dan daerah, pelatihan teknis, micro-credential serta lokakarya STEM lintas jenjang. Ekosistem tersebut melibatkan berbagai mitra, termasuk Monash University, SEAQIS dan Korea National University of Education.
Pada akhirnya, STEM bukan tentang seberapa mahal alat yang dimiliki sekolah. STEM adalah tentang seberapa besar keberanian kita memberikan ruang kepada anak untuk bertanya, mencoba, berpikir dan mencipta. Dan di ruang itulah guru PAUD memiliki peran yang sangat menentukan dalam menyiapkan generasi masa depan.


