Oleh: Rukmini
(Kepala sekolah SD Negeri cacaban Kec. Cipongkor/ Ketua PGRI Ranting VI Cabang Kecamatan Cipongkor)
Langkahnya pelan dan berat, tetapi teguh menyusuri jalan setapak dengan belukar dan semak liar di kiri kanannya. Sesekali pandangannya mengarah ke atas. Sekelompok burung kecil bercicit riang sambil berpindah dari dahan satu ke dahan lainnya. Senyumnya terbit, bibirnya sedikit bersenandung mengikuti irama langkah kaki yang bergesekan dengan daun kering yang berguguran sepanjang musim kemarau di penghujung Agustus yang berdebu.
Dia sedikit tersentak ketika suara gemerisik terdengar cukup keras dari samping kirinya. Matanya waspada melihat belukar yang bergoyang hebat. Pikirnya, mungkin ada babi hutan, karena bukan sekali dia berpapasan dengan babi hutan ketika melewati jalan ini. Jalan yang sama yang selama puluhan tahun dilaluinya dengan sabar.
Dia menunggu. Setelah sekian lama tidak ada yang muncul dari balik semak itu, dia menghela napas dan melanjutkan kembali langkahnya.
“Pagi, Pa!” sebuah suara mengagetkannya.
“Eh… pagi juga, Narti.”
“Kamu bikin kaget saja.”
Anak yang dipanggil Narti itu cuma cengengesan, lalu sedikit membungkuk dengan tas lusuh di punggungnya. Ia melewatinya dengan cepat dan sedikit berlari meninggalkannya. Dia menghela napas, pandangannya menatap Narti sampai punggungnya menghilang di tikungan jalan.
“Narti…” bisiknya getir.
Narti dan teman-temannya adalah alasan dia bertahan setiap hari menyusuri jalan setapak berdebu di musim kemarau dan berkubang lumpur di musim hujan. Dia tahu kehidupan seperti apa yang dijalani Narti dan juga teman-temannya di sini.
Mereka harus bangun lebih pagi daripada anak seusianya karena harus bersiap menempuh medan jauh dan terjal untuk pergi menuntut ilmu. Mereka harus sigap membereskan alat tulis ketika mendung mulai bergelayut di atas genting sekolahnya yang sudah pecah. Mereka harus rela wali kelasnya berbagi waktu dengan kelas lain karena longgarnya aturan dan mutasi penempatan guru.
Mereka belajar dengan segala keterbatasan sarana karena letak sekolah yang mungkin tidak terbaca oleh peta digital. Mereka juga pergi ke sekolah dengan perut yang kadang terisi ubi bakar, atau malah kosong karena ketidakmampuan PKH menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara merata.
Dia adalah seorang guru, guru yang merupakan bagian dari program pemerintah untuk daerah terpencil, atau kerennya dia adalah GURDACIL, yang ditempatkan di sebuah daerah dengan kondisi geografis yang sulit dijangkau kendaraan umum.
Kendaraan yang ditemui dan kadang berlalu-lalang hanyalah “Motor Keuyeup”, yang menjadi sarana transportasi untuk mendukung laju perekonomian penduduk. Motor lama yang dimodifikasi itu digunakan untuk mengangkut hasil alam dan pertanian ke pasar-pasar terdekat.
Sarana transportasi penduduk yang layak hampir tidak ada. Karena itulah, penduduk, termasuk anak-anak, sangat terbatas mobilitasnya. Imbasnya, denyut kehidupan hampir monoton, stagnan tanpa perkembangan yang berarti.
Awalnya dia bertiga, bersama teman-teman yang mempunyai mimpi dan cita-cita yang sama: mengabdi sebagai guru profesional dengan sumpah jabatan siap ditempatkan di mana saja.
Seiring waktu, sumpah itu terhapus oleh ketidaksabaran menghadapi sulitnya medan, tergores keengganan menghadapi sulitnya transportasi, serta terlindas lekatnya kesunyian ketika gelap mulai menjelang. Satu demi satu temannya pergi, dan tinggallah dia seorang GURDACIL yang tetap membersamai kepala sekolah yang mulai renta menjelang pensiun, tetap membersamai segelintir guru lama yang mulai menghitung pencairan TASPEN, tetap membersamai penjaga sekolah honorer yang sering terkantuk-kantuk di ujung koridor, dan tetap membersamai bunyi lonceng yang dipukul keras ketika awan hitam mulai berarak.
Kesehariannya, dia tetap setia menghitung sampul buku yang hilang setiap hari, tanpa tahu kapan akan diperbarui. Dia tetap sabar menambal dinding yang terkelupas dengan adukan semen dan tetap teguh melangkah ketika tak seorang pun guru berkenan datang di musim hujan karena jalan sangat licin dan berlumpur.
Suatu ketika, Narti bertanya,
“Pak Guru, saya ingin menjadi seperti Bapak, menjadi guru. Bisa tidak, ya, Pa?”
Dia tersenyum. Pandangannya menyapu teman-teman Narti yang terserak di halaman sekolah menikmati waktu istirahat.
“Kenapa ingin jadi guru, Narti?” tanyanya.
“Aku kasihan Bapak mengajar sendirian,” jawabnya.
“Sekolahnya pasti mahal, ya?”
Binar matanya meredup.
Ia tersenyum, lalu menunjuk sekumpulan burung yang sedang terbang.
“Lihat, burung itu pergi ke mana menurutmu?”
“Mereka terbang ke tempat baru,” jawab Narti.
“Ya, mereka terbang untuk mencari penghidupan yang lebih baik, tetapi akan kembali.”
“Jadilah seperti burung. Terbanglah kamu ke mana pun untuk meraih impianmu dan kembalilah dengan keberhasilan. Tuhan memberikan sayap kepada burung dan Tuhan memberikan kamu akal pikiran. Kamu bisa menggunakannya untuk mencapai tujuanmu. Bapak yakin kamu pasti bisa.”
Narti tersenyum. Binar harapan terpancar di matanya, berpadu dengan senyum tulus sang guru.
Karena sambil melamun, sampailah dia di tempat tujuan. Di balik gerumbul perdu, berjarak beberapa puluh meter di depannya, dalam naungan dinding lembah, di situlah bangunan sekolah tempatnya bertugas berada.
Di beberapa titik, bangunan itu mengalami pengelupasan sehingga tampaklah susunan batako yang bergantian luruh dari waktu ke waktu. Genting pecah-pecah dan turun dari posisinya karena ketidaksimetrisan kuda-kuda atap yang mempermudah genting bergeser, walau berkali-kali penjaga memperbaikinya.
Setiap hujan datang, tampaklah kesibukan di tiap kelas untuk memindahkan sarana pembelajaran ke tempat yang lebih aman, tempat cipratan air enggan menjangkaunya.
Dia melangkah memasuki ruang sempit bekas perpustakaan yang difungsikan sebagai ruang guru. Keheningan menyambutnya, dan itu terlalu sering terjadi.
Ruang guru yang sunyi. Para penghuninya lebih fokus memikirkan bagaimana ruang-ruang kelas mendapatkan pelajaran, lebih fokus menjaga agar tidak terjadi perkelahian di kelas yang kosong, dan lebih fokus mencari cara menilai beberapa kelas dalam waktu yang bersamaan.
Tak ada waktu mengisi ruang guru dengan obrolan tentang sertifikasi yang terlambat, cicilan ke BJB yang tak kunjung habis, atau sekadar menghitung dana BOS yang tak cukup. Sebuah keistimewaan jika semua guru bisa duduk bersama menikmati secangkir teh.
Dia menghela napas. Dia memejamkan mata, membayangkan suatu ketika bangunan itu berdiri megah dalam balutan cat merah bata yang terang berpadu dengan kuning kenari yang anggun.
Mebelair kokoh, walau kaki-kaki kecil terus menggesernya. Layar tripod terpancang, membawa Narti dan teman-temannya menjelajah dunia melalui film-film dokumenter hasil unduhan dari video yang tervalidasi.
Kemudian, bel listrik berbunyi nyaring ke seluruh penjuru ruang kelas, mampu bersaing dengan teriakan riang anak-anak menyanyikan lagu kebangsaan sebagai penutup kegiatan.
Dan tentu, tidak akan ada lagi pulang cepat dan kesibukan permanen ketika turun hujan. Juga keriuhan di ruang guru dengan tawa canda menunggu status SKTP telah terbit, atau bisik-bisik curhat tentang kurikulum yang terus berganti.
Tanpa sadar, dia tersenyum.
Dan senyumnya kembali hilang ketika dia membuka mata.
“Inilah sekolahku,” bisiknya. “Walau begini keadaannya, mungkin di sinilah rida Allah akan menjemputku.”
Senyumnya pasrah. Kembali, langkah teguhnya berayun.
#Cacaban, penghujung Agustus 2026



Cerita yang sangat menyentuh dan menginspirasi. Perjuangan guru di daerah terpencil menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti mengabdi. Semangat, ketulusan, dan dedikasi seorang guru mampu menyalakan harapan serta membuka jalan bagi masa depan anak-anak di pelosok negeri.