GURDACIL (Di Jalan Sunyi, Ada Mimpi yang Tak Pernah Pulang)

Karya: Rukmini
(Kepala sekolah SD Negeri cacaban Kec. Cipongkor/ Ketua PGRI Ranting VI Cabang Kecamatan Cipongkor)

Di jalan setapak yang panjang dan berdebu,
di antara semak dan daun yang gugur,
langkahmu mungkin tak terdengar dunia,
namun bumi mencatat setiap jejak pengabdianmu.

Kau datang ketika yang lain memilih pergi,
menyusuri jalan yang licin di musim hujan,
menembus sunyi ketika senja kehilangan cahaya,
membawa buku, harapan, dan sepotong keyakinan.

Di sekolah kecil di balik lembah,
genting retak menjadi saksi kesabaran,
dinding yang mengelupas tak pernah memadamkan
cahaya ilmu yang kau nyalakan.

Kau bukan sekadar seorang guru,
kau adalah penuntun di jalan yang jauh,
ketika fasilitas terbatas,
ketika perjalanan terasa berat,
ketika pengabdian harus dibayar dengan kesunyian.

Ada Narti dan anak-anak lainnya,
yang datang dengan tas lusuh di punggung,
kadang dengan perut yang belum terisi,
namun membawa mimpi sebesar langit.

Lalu kau berkata kepada mereka,
“Jadilah seperti burung,
terbanglah ke mana pun mengejar impian,
dan kembalilah membawa keberhasilan.”

Mungkin kelak mereka benar-benar terbang,
meninggalkan jalan setapak tempat mereka tumbuh,
mengejar sekolah, ilmu, dan cita-cita,
lalu pulang membawa perubahan.

Dan saat itu,
mungkin namamu tak disebut dalam buku sejarah,
tak terpampang di panggung penghargaan,
tetapi di hati anak-anak itu,
pengabdianmu akan hidup selamanya.

Wahai Gurdacil,
tetaplah melangkah meski jalan belum berubah,
sebab terkadang seorang guru
bukan hanya mengajar anak membaca dunia,
tetapi mengajarkan dunia
untuk percaya pada masa depan mereka.

Jika suatu hari langkahmu berhenti,
biarlah senyummu menjadi tanda,
bahwa pernah ada seorang guru
yang memilih bertahan
demi anak-anak di tempat yang hampir dilupakan.

Di sekolah sederhana itu,
di antara genting yang bocor dan dinding yang renta,
mungkin bukan kemegahan yang menjemputmu,
melainkan rida Allah
atas setiap langkah yang kau abdikan.

Gurdacil
namamu mungkin sederhana,
tetapi pengabdianmu adalah puisi
yang ditulis panjang oleh waktu.

One thought on “GURDACIL (Di Jalan Sunyi, Ada Mimpi yang Tak Pernah Pulang)”

  1. Sebuah puisi yang begitu dalam dan menyentuh. Setiap bait menggambarkan perjuangan Gurdacil yang mungkin sunyi dari sorotan, tetapi penuh makna bagi masa depan anak-anak. Mereka bukan sekadar mengajar, tetapi menanam harapan, menyalakan mimpi, dan membuka jalan menuju masa depan. Semoga setiap langkah pengabdian menjadi amal yang tak pernah terputus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *