Pendidikan sering kali diukur dari hasil. Nilai yang tinggi, kelulusan, prestasi, gelar akademik, jabatan, hingga keberhasilan seseorang dalam kehidupan menjadi ukuran yang mudah terlihat. Namun, di balik semua itu terdapat pertanyaan yang lebih mendasar: manusia seperti apa yang sesungguhnya ingin dibentuk oleh pendidikan?
Pertanyaan tersebut menemukan relevansinya dalam pesan K.H. Hasan Abdullah Sahal pada Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor melalui sebuah rumusan yang sederhana, tetapi mendalam: “Be the best, do the best, you have the best.”
Tiga kalimat tersebut sesungguhnya menggambarkan sebuah proses. Ada pribadi yang harus dibentuk, ada ikhtiar yang harus dijalankan, dan ada hasil yang kemudian menjadi buah dari keduanya. Urutannya penting. Hasil terbaik tidak seharusnya menjadi titik awal, tetapi konsekuensi dari pribadi yang baik dan proses yang dijalankan dengan sungguh-sungguh.
Be the Best: Membentuk Pribadi Sebelum Mengejar Prestasi
Be the best tidak berarti menjadi manusia yang merasa paling hebat dibandingkan orang lain. Menjadi yang terbaik lebih tepat dimaknai sebagai upaya untuk terus memperbaiki kualitas diri sesuai dengan potensi dan amanah yang diberikan Allah Swt.
Dalam konteks pendidikan, seorang peserta didik tidak cukup hanya dibekali pengetahuan. Ia perlu dibentuk menjadi manusia yang memiliki iman, akhlak, kedisiplinan, kesehatan, kemandirian, kecakapan, serta kemampuan untuk mengambil tanggung jawab.
Di sinilah pendidikan karakter menemukan tempatnya. Ilmu yang tinggi tanpa akhlak dapat kehilangan arah. Kecerdasan tanpa tanggung jawab dapat menjadi kekuatan yang tidak membawa kemaslahatan. Sebaliknya, ilmu yang disertai iman, adab, dan kepedulian akan menjadi bekal untuk memberikan manfaat yang lebih luas.
Karena itu, ukuran keberhasilan pendidikan semestinya tidak berhenti pada angka di dalam rapor, nilai ujian, ijazah, atau gelar akademik. Lebih jauh dari itu, pendidikan harus mampu menjawab pertanyaan: apakah proses pendidikan telah melahirkan manusia yang lebih baik?
Do the Best: Kualitas Diri Dibuktikan melalui Perbuatan
Menjadi pribadi yang baik tentu belum cukup. Kualitas seseorang pada akhirnya akan terlihat dari apa yang dilakukannya. Karena itu, tahap berikutnya adalah do the best—melakukan yang terbaik.
Niat yang baik harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Kesungguhan harus terlihat dalam pekerjaan. Tanggung jawab harus hadir dalam setiap amanah. Disiplin harus menjadi kebiasaan, bukan sekadar aturan yang dipatuhi ketika diawasi.
Dalam konteks pendidikan, guru memiliki posisi yang sangat penting. Guru tidak cukup hanya pandai menjelaskan tentang kejujuran, disiplin, tanggung jawab, atau kerja keras. Nilai-nilai tersebut harus tampak dalam perilaku sehari-hari.
Peserta didik akan lebih mudah memahami arti kedisiplinan ketika melihat gurunya menghargai waktu. Mereka akan memahami arti tanggung jawab ketika melihat gurunya bersungguh-sungguh menjalankan tugas. Mereka akan belajar tentang keikhlasan ketika menyaksikan gurunya mengajar dan mendidik bukan sekadar sebagai pekerjaan, tetapi sebagai bentuk pengabdian.
Pada titik inilah keteladanan menjadi bahasa pendidikan yang sangat kuat. Apa yang dilakukan sering kali lebih membekas daripada apa yang sekadar disampaikan.
Demikian pula dengan peserta didik. Cita-cita yang tinggi harus disertai kemauan untuk belajar, berlatih, bekerja keras, menerima kritik, memperbaiki kesalahan, dan terus bertumbuh. Tidak ada kualitas yang lahir dari kemalasan dan tidak ada keberhasilan yang kokoh tanpa proses.
STIR: Sabar, Tawakkal, Ikhlas, dan Ridla
Dalam menjalani proses tersebut, K.H. Hasan Abdullah Sahal juga menggambarkan pentingnya STIR: Sabar, Tawakkal, Ikhlas, dan Ridla.
Perjalanan pendidikan tidak selalu berlangsung lurus dan mudah. Ada saat ketika seseorang harus bergerak cepat, tetapi ada pula waktunya untuk berhenti sejenak, mengevaluasi, kemudian menentukan langkah berikutnya.
Ibarat seorang pengemudi, seseorang harus mengetahui kapan harus menekan gas dan kapan harus mengurangi kecepatan. Demikian pula seorang pendidik. Kesungguhan bukan berarti tergesa-gesa. Kerja keras bukan berarti kehilangan ketenangan. Justru diperlukan kemampuan untuk membaca keadaan dan mengambil keputusan dengan tepat.
Sabar mengajarkan ketekunan dalam menjalani proses. Tawakkal mengajarkan bahwa setelah ikhtiar dilakukan, manusia menyerahkan hasil kepada Allah Swt. Ikhlas menjaga agar pengabdian tidak bergantung pada pujian dan penghargaan. Sementara ridla mengajarkan kemampuan menerima ketentuan Allah dengan tetap menjaga semangat untuk berbuat baik.
Keempat sikap tersebut menjadi energi batin yang penting bagi seorang pendidik. Sebab mendidik bukan pekerjaan yang hasilnya selalu dapat dilihat dalam waktu singkat. Ada nilai yang baru tampak bertahun-tahun kemudian, bahkan mungkin ketika seorang guru sudah tidak lagi berada di samping peserta didiknya.
You Have the Best: Hasil sebagai Buah dari Proses
Tahap terakhir adalah you have the best. Setelah pribadi dibentuk dan proses dijalankan dengan sebaik-baiknya, maka hasil menjadi buah yang diharapkan.
Namun, hasil terbaik tidak selalu berarti memiliki kekayaan paling banyak, jabatan paling tinggi, fasilitas paling lengkap, atau penghargaan paling banyak.
Dalam perspektif pendidikan pesantren, hasil terbaik dapat berupa akhlak yang melekat dalam kehidupan, ilmu yang bermanfaat, kemampuan hidup mandiri, kecakapan menghadapi persoalan, kesediaan berkhidmat, serta kemampuan memberikan manfaat kepada masyarakat, umat, dan bangsa.
Dengan demikian, keberhasilan seseorang tidak semata-mata dilihat dari apa yang berhasil dikumpulkannya untuk dirinya sendiri, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.
Inilah alasan mengapa you have the best ditempatkan pada bagian terakhir. Hasil adalah buah. Buah yang baik tidak lahir secara tiba-tiba. Ia membutuhkan benih yang baik, proses perawatan yang konsisten, kesabaran, dan ketekunan.
Sejalan dengan Panca Jiwa Gontor
Prinsip tersebut juga memiliki hubungan erat dengan Panca Jiwa Pondok Modern Darussalam Gontor, yaitu keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan.
Keikhlasan menjaga agar keunggulan tidak berubah menjadi kesombongan. Kesederhanaan mengingatkan bahwa kualitas seseorang tidak ditentukan oleh kemewahan yang dimilikinya. Berdikari menumbuhkan keberanian untuk bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Ukhuwah Islamiyah mengajarkan bahwa keberhasilan tidak boleh membuat seseorang berjalan sendiri, melainkan harus memperkuat persaudaraan dan kepedulian.
Sementara itu, kebebasan bukan berarti bebas tanpa batas. Kebebasan harus berjalan bersama tanggung jawab, nilai, dan kesadaran terhadap konsekuensi dari setiap pilihan.
Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa pendidikan bukan sekadar aktivitas transfer ilmu. Pendidikan merupakan proses pembentukan manusia secara utuh: pikiran, hati, sikap, dan perilakunya.
Relevan bagi Pendidikan Hari Ini
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, prinsip be the best, do the best, you have the best tetap memiliki relevansi yang kuat.
Teknologi berkembang, kecerdasan buatan semakin hadir dalam kehidupan, metode pembelajaran berubah, dan kebutuhan kompetensi peserta didik terus berkembang. Namun, ada satu hal yang tidak berubah: pendidikan tetap membutuhkan manusia yang berkarakter.
Teknologi dapat membantu manusia bekerja lebih cepat. Kecerdasan buatan dapat membantu mengolah informasi. Berbagai platform digital dapat memperluas akses terhadap pengetahuan. Tetapi semuanya membutuhkan manusia yang memiliki integritas, tanggung jawab, kemampuan berpikir, dan kematangan moral dalam menggunakannya.
Karena itu, tantangan pendidikan bukan hanya bagaimana menghasilkan peserta didik yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, tetapi juga bagaimana memastikan bahwa kemajuan tersebut tetap berada dalam koridor nilai, etika, dan kemanusiaan.
Pendidikan adalah Proses Menjadi
Pada akhirnya, pendidikan adalah proses menjadi. Menjadi manusia yang lebih baik, lebih berilmu, lebih matang, lebih bertanggung jawab, dan lebih bermanfaat.
Be the best mengajarkan kita untuk membangun kualitas diri.
Do the best mengajarkan kita untuk membuktikannya melalui tindakan.
You have the best mengajarkan kita bahwa hasil yang baik merupakan buah dari pribadi dan proses yang baik.
Ketiga kalimat tersebut sekaligus mengingatkan bahwa jangan terlalu cepat mengejar hasil tanpa membangun kualitas diri dan memperbaiki proses. Sebab hasil yang kokoh lahir dari fondasi yang kokoh.
Bagi para pendidik, pesan ini dapat menjadi bahan refleksi: sudahkah kita menjadi teladan sebelum menuntut peserta didik menjadi baik? Sudahkah kita memberikan yang terbaik sebelum berharap memperoleh hasil terbaik? Dan sudahkah hasil pendidikan kita diarahkan bukan hanya untuk keberhasilan pribadi, tetapi juga untuk memberikan manfaat bagi masyarakat, umat, dan bangsa?
Pada akhirnya, menjadi yang terbaik bukan tentang mengalahkan orang lain. Melakukan yang terbaik bukan tentang mendapatkan pujian. Dan memperoleh hasil terbaik bukan semata-mata tentang memiliki lebih banyak daripada orang lain.
Lebih dari itu, menjadi yang terbaik adalah tentang terus memperbaiki diri, melakukan yang terbaik sebagai bentuk tanggung jawab, dan menjadikan setiap hasil sebagai jalan untuk menghadirkan kemanfaatan.
Pribadi yang baik akan melahirkan perbuatan yang baik. Perbuatan yang baik, dengan izin Allah Swt., akan melahirkan kebaikan yang lebih luas.
Al-faqiir ila rohmatillaahi al-Qodiir,
Sutarmin, S.Pd., M.Pd.I.
Sekbid Pembinaan Mental dan Karakter Bangsa
PGRI Kabupaten Bandung Barat


