Bung Karno pernah mengingatkan bangsa Indonesia melalui ungkapan JAS MERAH: Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah. Pesan tersebut mengingatkan kita bahwa bangsa, lembaga, dan generasi tidak boleh kehilangan ingatan terhadap perjuangan para pendahulunya.
Namun, mengingat sejarah saja tidak cukup. Sejarah perlu dipahami dan disikapi dengan cerdas, karena generasi hari ini bukan hanya pembaca masa lalu. Kita juga merupakan pelaku yang akan menentukan dan membangun sejarah pada masa depan.
Sejarah sebagai Identitas dan Pelajaran Hidup
Sejarah merupakan sumber identitas, pelajaran, sekaligus arah perjuangan. Melalui sejarah, kita dapat memahami asal-usul, nilai-nilai yang diwariskan, keberhasilan yang perlu dilanjutkan, serta kesalahan yang tidak boleh diulangi.
Dalam dunia pendidikan dan pesantren, sejarah tidak semestinya hanya dipahami sebagai rangkaian tahun, nama tokoh, dan berbagai peristiwa. Lebih dari itu, sejarah merupakan perjalanan nilai yang mencakup keikhlasan, pengorbanan, kesederhanaan, kemandirian, kedisiplinan, dan keberanian dalam memperjuangkan cita-cita.
Jika generasi penerus hanya menghafal peristiwa tanpa memahami nilai dan semangat yang melahirkannya, sejarah akan berhenti sebagai cerita masa lalu. Ia tidak lagi menjadi pelajaran yang mampu membentuk sikap dan menentukan langkah kehidupan.
Cerdas Menyikapi Sejarah di Tengah Perubahan Zaman
Cerdas menyikapi sejarah berarti mampu mengambil nilai-nilai yang masih relevan dan menerapkannya sesuai dengan tantangan zaman. Menghormati para pendahulu bukan berarti harus meniru seluruh bentuk perjuangan masa lalu secara kaku.
Yang perlu dijaga adalah prinsip, nilai, dan semangat perjuangannya, sementara cara meneruskannya dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman.
Lembaga pendidikan, termasuk pesantren, perlu terbuka terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, dan perubahan sosial. Namun, keterbukaan tersebut tetap harus disertai identitas, arah, dan nilai dasar yang kuat.
Perubahan zaman tidak seharusnya membuat lembaga pendidikan kehilangan jati dirinya. Sebaliknya, kesetiaan terhadap tradisi juga tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berkembang. Tradisi yang baik perlu dijaga, sementara inovasi diperlukan agar nilai-nilai tersebut tetap hidup dan mampu menjawab kebutuhan zaman.
Jangan Hanya Membanggakan Sejarah Masa Lalu
K.H. Hasan Abdullah Sahal mengingatkan bahwa kita tidak boleh menyerah kepada sejarah. Masa lalu, betapapun besar dan membanggakannya, tidak boleh membuat generasi sekarang hanya menjadi penonton atau sekadar membanggakan jasa para pendahulu.
Setiap generasi memiliki amanah dan medan perjuangannya sendiri. Karena itu, kebesaran masa lalu seharusnya melahirkan tanggung jawab, bukan kesombongan; menjadi energi untuk bekerja, bukan alasan untuk merasa bahwa perjuangan telah selesai.
Sejarah yang besar tidak seharusnya membuat kita berhenti pada nostalgia. Justru, sejarah harus menjadi sumber inspirasi untuk melahirkan karya-karya baru yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Membangun Sejarah melalui Pendidikan dan Pengabdian
Membangun sejarah berarti menghadirkan karya yang memberikan manfaat bagi umat dan bangsa. Dalam dunia pendidikan, sejarah baru dapat dibangun melalui guru yang ikhlas dan mampu menjadi teladan, peserta didik yang disiplin dan berilmu, lembaga pendidikan yang mandiri, serta alumni yang hadir membawa solusi di tengah masyarakat.
Membangun sejarah juga tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang besar dan menjadi perhatian banyak orang. Tidak sedikit sejarah perubahan justru dimulai dari pekerjaan sederhana yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, konsisten, dan penuh pengabdian.
Seorang guru yang setiap hari mendidik dengan ketulusan sedang membangun sejarah. Seorang santri yang tekun belajar dan menjaga akhlaknya juga sedang membangun sejarah. Begitu pula alumni yang menggunakan ilmu dan pengalamannya untuk membantu masyarakat.
Dengan demikian, sejarah bukan hanya milik tokoh-tokoh besar. Setiap orang memiliki kesempatan untuk meninggalkan jejak kebaikan melalui peran dan pengabdiannya masing-masing.
Dari JAS MERAH Menuju JAS MASA DEPAN
JAS MERAH perlu dilanjutkan menjadi sikap yang lebih aktif: jangan melupakan sejarah, pahami sejarah dengan cerdas, lalu bangun sejarah yang lebih baik.
Kita menjaga akar agar tidak kehilangan identitas. Kita membaca zaman agar tidak kehilangan arah. Dan kita berkarya agar kehidupan yang kita jalani tidak berlalu tanpa meninggalkan jejak kebaikan.
Warisan terbaik dari para pendahulu bukan hanya untuk dikenang. Warisan itu harus dihidupkan, dikembangkan, dan diteruskan sesuai dengan tantangan zaman.
Sebab, kita bukan hanya pewaris sejarah. Kita adalah generasi yang sedang menulis sejarah. Apa yang kita lakukan hari ini akan menjadi bagian dari cerita yang mungkin dibaca oleh generasi setelah kita.
Karena itu, jangan cukup hanya berkata, “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.” Mari melangkah lebih jauh: pahami sejarah, ambil nilai perjuangannya, dan bangun sejarah baru yang bermanfaat bagi umat, bangsa, dan generasi mendatang.
Al-faqiir ila rohmatillaahi al-Qodiir,
Sutarmin, S.Pd., M.Pd.I.
Sekbid Pembinaan Mental dan Karakter Bangsa PGRI Kabupaten Bandung Barat



mantappp…kerennn ketua