Resensi Buku “Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB): Pilar Utama Pembentukan Karakter Siap Hadapi Krisis”
Bayangkan suatu pagi kegiatan belajar berlangsung seperti biasa. Guru sedang menjelaskan pelajaran, siswa mengikuti pembelajaran, sebagian mungkin sedang bercanda dengan teman. Tiba-tiba bumi bergetar. Dalam hitungan detik, kepanikan bisa terjadi.
Siapa yang tahu harus berbuat apa? Ke mana harus berlari? Siapa yang membantu siswa berkebutuhan khusus? Di mana titik kumpul? Bagaimana memastikan seluruh siswa sudah keluar? Dan setelah semuanya aman, siapa yang membantu anak yang mengalami trauma?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat buku Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB): Pilar Utama Pembentukan Karakter Siap Hadapi Krisis karya Dr. H. Rustiyana, ST., MT., M.Pd., M.A.P. menjadi menarik untuk dibaca. Buku ini tidak sekadar berbicara tentang bencana, tetapi mengajak sekolah memikirkan kembali arti kesiapsiagaan, keselamatan, karakter, dan keberlanjutan pendidikan ketika krisis benar-benar terjadi.
Diterbitkan oleh Mandatrama Grafika, buku ini merupakan cetakan pertama, Desember 2025. Editor buku adalah Adhyatnika Geusan Ulun, dengan desain sampul oleh penulis dan tata letak oleh Ruslan Abdulgani.
SPAB Bukan Sekadar Papan Nama
Inilah gagasan yang terasa kuat sejak awal buku. Penulis mengingatkan bahwa Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik dan menghadapi berbagai ancaman bencana, mulai dari gempa bumi, tsunami, banjir hingga letusan gunung api. Sekolah, sebagai “rumah kedua” bagi peserta didik, bukan hanya tempat belajar, tetapi juga dapat menjadi benteng perlindungan pertama ketika keadaan darurat terjadi.
Karena itu, Satuan Pendidikan Aman Bencana tidak boleh berhenti pada papan nama, poster, atau tanda jalur evakuasi.
SPAB harus menjadi budaya. Budaya yang membuat guru tahu apa yang harus dilakukan. Siswa memahami bagaimana menyelamatkan diri. Tenaga kependidikan mengetahui perannya. Sekolah memiliki prosedur yang jelas. Orang tua memahami mekanisme komunikasi darurat. Dan seluruh warga sekolah memiliki kesadaran bahwa keselamatan merupakan tanggung jawab bersama.
Inilah yang menjadi salah satu daya tarik buku ini: bencana tidak ditempatkan sebagai kejadian yang hanya perlu dipikirkan ketika sudah terjadi. Kesiapsiagaan justru harus dibangun jauh sebelum bencana datang.
Dari Kepanikan Menjadi Prosedur
Salah satu bagian yang sangat menarik adalah pembahasan mengenai Rencana Tanggap Bencana. Penulis tidak berhenti pada anjuran agar sekolah “siap menghadapi bencana”. Buku ini menjelaskan bahwa kesiapsiagaan harus diterjemahkan menjadi prosedur yang operasional, mulai dari fase prabencana, situasi darurat, hingga pascabencana. Alarm, jalur evakuasi, titik kumpul, pembagian tugas, hingga pemulihan pembelajaran harus dipikirkan sebelumnya.
Bahkan, buku menekankan pentingnya simulasi secara teratur, minimal dua kali setahun, untuk menguji sekaligus memperbarui rencana aksi sekolah.
Dengan kata lain, tujuan simulasi bukan sekadar membuat foto kegiatan untuk dokumentasi. Simulasi harus membuat warga sekolah terlatih untuk berpikir dan bertindak ketika kepanikan benar-benar terjadi.
Bagaimana Membuat Siswa Serius Saat Simulasi?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi justru menjadi salah satu bagian menarik dalam buku. Bukankah kita sering melihat simulasi bencana di sekolah berubah menjadi kegiatan seremonial? Alarm berbunyi, siswa keluar kelas, berkumpul di lapangan, kemudian selesai.
Buku ini menawarkan pendekatan berbeda Simulasi harus menggunakan skenario yang realistis dan berbasis risiko lokal. Sekolah di daerah rawan banjir, misalnya, dapat menggunakan skenario banjir. Sekolah di wilayah yang berpotensi tsunami perlu memiliki skenario yang sesuai. Bahkan skenario dapat dibuat lebih spesifik, misalnya ada pintu yang terblokir atau terdapat korban yang membutuhkan pertolongan.
Menariknya, penulis juga mendorong keterlibatan BPBD, kepolisian, dan Puskesmas agar latihan memiliki bobot dan evaluasi profesional. Siswa pun tidak hanya menjadi objek latihan, tetapi dapat diberikan peran kepemimpinan sebagai Duta Kesiapsiagaan.
Setelah simulasi pun belum selesai. Ada debriefing dan evaluasi untuk mencari kesalahan, menemukan celah dalam prosedur, dan menyusun perbaikan. Di sinilah simulasi berubah dari sekadar “latihan” menjadi proses pembelajaran karakter.
Peta Risiko: Apakah Sekolah Kita Sudah Mengenali Bahayanya?
Bagian lain yang tak kalah menarik adalah pembahasan mengenai Peta Risiko Sekolah. Peta risiko tidak diposisikan sekadar sebagai gambar yang ditempel di dinding. Ia menjadi alat untuk mengenali ancaman dan kerentanan di sekitar sekolah maupun di dalam lingkungan sekolah.
Ancaman yang dipetakan dapat mencakup risiko geologis, hidrometeorologi, hingga risiko sosial. Sementara kerentanan internal sekolah dapat mencakup bangunan yang berisiko, lokasi bahan berbahaya, jalur evakuasi, titik P3K, hingga titik kumpul.
Yang menarik, penulis menekankan bahwa peta risiko harus bersifat dinamis. Perubahan musim, pembangunan di sekitar sekolah, maupun munculnya kerentanan baru dapat mengubah profil risiko. Karena itu, peta harus diaudit dan diperbarui secara berkala. Bagi sekolah, ini merupakan pengingat penting: risiko hari ini belum tentu sama dengan risiko tahun depan.
Tas Siaga Bencana Bukan Sekadar Tas
Pernahkah kita memeriksa apa isi tas siaga bencana di sekolah?
Buku ini memberikan pembahasan khusus mengenai hal tersebut. Tas Siaga Bencana diposisikan sebagai perlengkapan yang membantu memenuhi kebutuhan dasar dan komunikasi selama masa awal setelah bencana.
Isinya tidak hanya makanan dan air. Ada perlengkapan penerangan, peluit, P3K, perlengkapan kebersihan, dokumen penting, daftar kontak darurat, daftar siswa, alat komunikasi, hingga perlengkapan yang mendukung kesejahteraan psikososial anak. Bahkan, buku mengingatkan bahwa keberadaan tas saja tidak cukup. Isinya harus diperiksa secara berkala, termasuk tanggal kedaluwarsa makanan dan obat-obatan serta kondisi baterai.
Sebuah gagasan sederhana, tetapi justru menunjukkan karakter buku ini: kesiapsiagaan dibangun dari detail-detail kecil yang sering kita abaikan.
Keselamatan Harus Inklusif
Hal yang patut diapresiasi dari buku ini adalah perhatian terhadap kelompok rentan.
Jalur evakuasi tidak cukup hanya “ada”. Jalur tersebut harus dapat digunakan oleh seluruh warga sekolah, termasuk peserta didik penyandang disabilitas, guru lansia, dan mereka yang membutuhkan bantuan khusus. Artinya, ukuran keberhasilan SPAB bukan hanya seberapa cepat mayoritas siswa mencapai titik kumpul.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: Apakah semua orang berhasil diselamatkan?. Perspektif ini membuat SPAB tidak hanya menjadi program mitigasi bencana, tetapi juga pendidikan tentang kepedulian, empati, tanggung jawab, dan kemanusiaan.
Bencana Masuk ke Ruang Kelas
Salah satu gagasan yang membuat buku ini tidak terasa seperti manual teknis adalah pembahasan tentang integrasi bencana ke dalam pembelajaran. Bencana tidak harus menjadi materi tambahan yang berdiri sendiri. Penulis menunjukkan bahwa fenomena bencana dapat menjadi sumber belajar berbagai mata pelajaran—misalnya belajar fisika melalui gempa atau biologi melalui tsunami.
Dengan pendekatan tersebut, pendidikan kebencanaan tidak lagi hanya berbicara tentang “apa yang harus dilakukan ketika bencana”, tetapi juga mengembangkan kemampuan siswa untuk memahami risiko, berpikir kritis, menganalisis lingkungan, dan mengambil keputusan. Di sinilah SPAB bertemu dengan pendidikan abad ke-21.
Yang Sering Terlupakan: Trauma Setelah Bencana
Buku ini juga mengingatkan bahwa bencana tidak berakhir ketika gempa berhenti, banjir surut, atau siswa telah sampai di titik kumpul. Ada persoalan lain yang mungkin tidak terlihat: trauma. Karena itu, buku memasukkan psikososial dan dukungan pascabencana sebagai salah satu dari lima pilar utama. Di dalamnya dibahas trauma sekolah, konseling darurat, peer support, komunikasi saat situasi darurat, serta pengelolaan stres dan kecemasan.
Perspektif ini penting karena sekolah bukan hanya bertugas menyelamatkan tubuh peserta didik, tetapi juga membantu mereka kembali merasa aman dan mampu melanjutkan proses belajar.
Sekolah Tidak Bisa Berjuang Sendirian
Buku ini juga menolak pandangan bahwa SPAB merupakan pekerjaan sekolah semata. Ada tiga pilar kolaborasi yang ditekankan: sekolah, keluarga, dan komunitas. Sinergi dengan BPBD menjadi bagian penting dalam membangun sistem kesiapsiagaan yang lebih kuat.
Daftar isi buku menunjukkan pembahasan yang cukup luas mengenai peran komite sekolah, kerja sama dengan BPBD, gerakan SPAB lokal, hingga advokasi anggaran untuk sarana dan prasarana kesiapsiagaan.
Dengan demikian, pesan yang dibangun cukup jelas: Sekolah aman tidak dapat dibangun sendirian. Diperlukan jejaring.
Dari Banjir hingga Virtual Reality
Cakupan buku juga cukup luas. Setelah membahas prinsip dasar kesiapsiagaan, pembaca diajak masuk ke jenis bencana yang lebih spesifik, seperti banjir, kebakaran, erupsi gunung api, pandemi dan kecelakaan massal, serta tsunami.
Pada bagian akhir, buku membawa pembaca ke isu kebijakan dan masa depan SPAB: bagaimana program ini bergerak dari inisiasi menuju standardisasi serta bagaimana teknologi seperti Virtual Reality dapat dimanfaatkan untuk pelatihan kebencanaan di sekolah.
Menariknya, teknologi tidak ditempatkan sebagai tujuan akhir. Teknologi tetap diposisikan sebagai alat untuk memperkuat latihan, visualisasi risiko, dan kesiapsiagaan.
Lebih dari Buku tentang Bencana
Pada akhirnya, Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB): Pilar Utama Pembentukan Karakter Siap Hadapi Krisis bukan sekadar buku tentang bagaimana menyelamatkan diri ketika bencana terjadi.
Buku ini berbicara tentang bagaimana sekolah membentuk manusia yang siap menghadapi ketidakpastian.
Siswa yang tahu bagaimana melindungi dirinya. Siswa yang mampu membantu temannya. Guru yang mampu mengambil keputusan dalam situasi darurat. Sekolah yang mampu menjaga keberlangsungan pembelajaran. Komunitas yang mampu bekerja bersama. Dan yang tidak kalah penting, generasi muda yang memiliki karakter disiplin, empati, tangguh, dan sadar risiko.
Itulah sebabnya judul buku ini menggunakan frasa “Pilar Utama Pembentukan Karakter Siap Hadapi Krisis.” Dalam buku ini, kesiapsiagaan bencana tidak hanya dimaknai sebagai persoalan teknis, tetapi sebagai proses pendidikan karakter yang berlangsung melalui latihan, tanggung jawab, kepemimpinan, kepedulian, dan kolaborasi.
Bagi kepala sekolah, guru, pengelola UKS/SPAB, komite sekolah, orang tua, maupun pemangku kepentingan pendidikan, buku ini menawarkan banyak pertanyaan untuk direnungkan sekaligus gagasan untuk diterapkan. Dan mungkin, setelah membaca buku ini, kita akan memandang papan “Jalur Evakuasi” di sekolah dengan cara yang berbeda.
Bukan lagi sekadar tulisan di dinding. Tetapi sebuah pertanyaan: Jika bencana terjadi hari ini, apakah kita benar-benar siap? Pertanyaan itulah yang membuat buku ini layak dibaca.
Sekilas Buku
Judul: Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB): Pilar Utama Pembentukan Karakter Siap Hadapi Krisis
Penulis: Dr. H. Rustiyana, ST., MT., M.Pd., M.A.P.
Editor: Adhyatnika Geusan Ulun
Penerbit: Mandatrama Grafika
Cetakan: I, Desember 2025
Tebal: 150 halaman
Desain sampul: Dr. H. Rustiyana
Tata letak: Ruslan Abdulgani
ISBN: 978-634-96618-0-5
Tentang Penulis
Dr. H. Rustiyana, ST., MT., M.Pd., M.A.P. tercatat dalam buku sebagai penulis yang memiliki latar pendidikan Teknik Informatika, Magister Teknik, Magister Pendidikan, Magister Administrasi Publik, serta Doktor Ilmu Pendidikan. Latar multidisipliner tersebut tercermin dalam pendekatan buku yang mempertemukan pendidikan, manajemen, teknologi, kebencanaan, dan pembentukan karakter.


