Resensi Buku “80 Tahun PGRI: Pilar Perjuangan, Jembatan Kesejahteraan”

Identitas Buku

Judul: 80 Tahun PGRI: Pilar Perjuangan, Jembatan Kesejahteraan
Penulis: Dr. H. Rustiyana, S.T., M.T., M.Pd., M.A.P.
Editor: Adhyatnika Geusan Ulun
Desain Sampul: Dr. H. Rustiyana
Layout: Ruslan Abdulgani
Penerbit: Mandatrama Grafika, Bandung
ISBN: 978-623-89554-7-3
Edisi: Pertama, Desember 2025
Isi: 30 artikel populer dan biodata penulis.

Membaca 80 Tahun Perjuangan Guru

Buku 80 Tahun PGRI: Pilar Perjuangan, Jembatan Kesejahteraan bukan sekadar buku yang mengingat kembali perjalanan sebuah organisasi profesi guru. Buku karya Dr. H. Rustiyana ini mencoba menghadirkan PGRI melalui perspektif yang lebih luas: sejarah perjuangan, identitas guru, perubahan dunia pendidikan, perkembangan teknologi, kesejahteraan, profesionalisme, hingga aspirasi guru di tingkat akar rumput.

Gagasan tersebut terlihat sejak bagian pengantar. Penulis menjelaskan bahwa buku ini lahir dari refleksi terhadap dinamika pendidikan dan pengalaman melihat secara langsung berbagai persoalan yang dihadapi guru. Di dalamnya terdapat gambaran mengenai guru honorer yang menunggu kepastian, guru yang mengabdi di wilayah terpencil, serta guru yang harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Berbagai persoalan tersebut kemudian dituangkan dalam 30 artikel populer.

Pilihan judul Pilar Perjuangan, Jembatan Kesejahteraan terasa cukup kuat. “Pilar perjuangan” menggambarkan posisi guru dan PGRI dalam perjalanan pendidikan dan pembangunan bangsa, sedangkan “jembatan kesejahteraan” menggambarkan harapan agar perjuangan organisasi tidak berhenti pada aspek historis dan simbolik, tetapi terus menghubungkan guru dengan kondisi profesional dan kesejahteraan yang lebih baik. Penulis sendiri mengaitkan judul tersebut dengan posisi PGRI sebagai bagian dari perjuangan pendidikan serta upaya menjembatani realitas guru hari ini dengan masa depan profesi guru yang lebih bermartabat.

Dari Sejarah Menuju Masa Depan

Salah satu kekuatan buku ini adalah cara penulis menghubungkan sejarah dengan persoalan pendidikan masa kini. Bagian pertama buku membahas sejarah, peran, dan jati diri PGRI. Di dalamnya terdapat pembahasan mengenai perjalanan PGRI selama 80 tahun, evolusi organisasi dari PGHB, PGI hingga PGRI, karakter perjuangan guru, pendidikan internasional, guru di daerah 3T, perkembangan teknologi, warisan perjuangan guru, hingga perlindungan dan kesejahteraan guru.

Pembahasan sejarah tidak hanya ditempatkan sebagai nostalgia. Dalam uraian awal, PGRI digambarkan sebagai organisasi yang lahir tidak lama setelah Indonesia merdeka dan berkembang dalam berbagai konteks perubahan zaman. Guru tidak ditempatkan hanya sebagai orang yang mengajar di ruang kelas, tetapi sebagai bagian dari kekuatan yang ikut membangun kehidupan berbangsa. Karena itu, sejarah PGRI dalam buku ini diposisikan sebagai sumber refleksi untuk memahami tantangan guru pada masa sekarang dan masa mendatang.

Menariknya, penulis juga membawa pembaca mundur lebih jauh melalui pembahasan mengenai PGHB pada 1912, PGI pada 1932, dan kemudian lahirnya PGRI pada 1945. Perubahan tersebut menunjukkan perjalanan organisasi guru dari solidaritas profesi menuju kesadaran yang lebih luas mengenai pendidikan dan pembangunan bangsa.

Dengan demikian, pembaca diajak memahami bahwa organisasi guru tidak muncul dalam ruang kosong. Ada proses sejarah yang panjang di balik keberadaan PGRI dan identitas guru Indonesia.

Guru: Pejuang Sekaligus Profesional

Gagasan penting lainnya adalah konsep mengenai “DNA” guru sebagai pejuang sekaligus profesional. Penulis tidak mempertentangkan kedua karakter tersebut. Guru ideal justru digambarkan sebagai sosok yang mampu memperjuangkan hak dan kepentingan profesinya, tetapi pada saat yang sama terus meningkatkan kompetensi dan kualitas pengabdiannya.

Profesionalisme dalam buku ini tidak hanya berkaitan dengan sertifikat atau status kepegawaian. Guru juga dituntut untuk terus belajar, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, meningkatkan kompetensi, mengikuti pelatihan, dan mampu beradaptasi dengan teknologi. Dengan kata lain, perjuangan guru terhadap kesejahteraan berjalan berdampingan dengan tanggung jawab untuk menjaga kualitas profesinya.

Perspektif ini membuat buku tidak berhenti pada pembahasan mengenai tuntutan kesejahteraan. Ada pesan bahwa peningkatan kesejahteraan dan peningkatan profesionalisme merupakan dua hal yang saling berkaitan.

Guru di Tengah Perubahan Teknologi dan AI

Bagian yang cukup relevan dengan situasi pendidikan saat ini adalah pembahasan mengenai transformasi digital dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Perubahan teknologi membuat dunia pendidikan menghadapi tantangan baru. Guru tidak lagi hanya berhadapan dengan buku teks dan metode pembelajaran konvensional, tetapi juga dengan ekosistem digital yang berkembang sangat cepat.

Dalam bagian mengenai organisasi dan disrupsi teknologi, buku menyinggung digitalisasi keanggotaan, kesenjangan antargenerasi, komunikasi digital, serta penggunaan AI. Teknologi dipandang sebagai sesuatu yang perlu diadaptasi secara bijak, termasuk dengan memperhatikan aspek etika dalam penggunaannya.

Tema tersebut membuat buku terasa aktual. Penulis tidak menempatkan sejarah PGRI sebagai sesuatu yang terpisah dari perkembangan zaman. Justru perjalanan 80 tahun tersebut dipertemukan dengan pertanyaan yang sangat kontemporer: bagaimana guru dan organisasi profesi tetap relevan ketika teknologi pendidikan berubah begitu cepat?

Dari Guru 3T hingga Persoalan Kesejahteraan

Buku ini juga memberikan perhatian kepada guru yang mengabdi di wilayah 3T. Persoalan guru di daerah terpencil tidak hanya berkaitan dengan proses belajar mengajar, tetapi juga kondisi geografis, infrastruktur, akses, dan berbagai keterbatasan lingkungan kerja. Guru dalam konteks tersebut digambarkan bukan hanya sebagai tenaga pendidik, tetapi juga sebagai figur penting di tengah masyarakat.

Pembahasan tersebut kemudian dikaitkan dengan peran PGRI dalam memperjuangkan kepentingan guru, termasuk perhatian terhadap tunjangan khusus dan kebijakan afirmatif dalam pengadaan atau rekrutmen PPPK.

Persoalan kesejahteraan guru kemudian mendapatkan ruang yang lebih luas pada bagian ketiga buku. Di sini pembaca menemukan topik mengenai guru honorer, PPPK dan PNS, sertifikasi, indeks kesejahteraan guru, aspirasi guru akar rumput, keadilan penghasilan, kepemimpinan, perlindungan guru dari kekerasan, etika bermedia sosial, hingga kewirausahaan guru.

Rangkaian tema tersebut menunjukkan bahwa kesejahteraan guru dipandang sebagai persoalan yang multidimensional. Kesejahteraan bukan hanya mengenai besaran penghasilan, tetapi juga kepastian status, perlindungan, penghargaan terhadap profesi, ruang pengembangan diri, dan kemampuan guru menghadapi perubahan zaman.

PGRI dan Pendidikan Internasional

Buku ini juga memperluas pembahasan PGRI hingga ke ranah internasional. Penulis menguraikan keterlibatan PGRI dalam organisasi guru internasional seperti Education InternationaldanASEAN Council of Teachers. Hubungan tersebut dipandang sebagai bagian dari pendidikan dan diplomasi profesi, sekaligus membuka ruang pertukaran pengalaman, praktik, dan standar pendidikan.

Pembahasan ini menarik karena memperlihatkan bahwa persoalan guru tidak selalu berhenti pada batas daerah atau nasional. Perubahan pendidikan, perkembangan teknologi, profesionalisme, dan tantangan guru juga menjadi bagian dari percakapan pendidikan global.

Struktur Buku yang Memudahkan Pembaca

Secara sistematis, buku ini dibagi menjadi tiga bagian utama.

Bagian I: Sejarah, Peran, dan Jati Diri PGRI berisi pembahasan mengenai sejarah dan perjalanan PGRI, identitas guru, perjuangan guru, guru 3T, perkembangan teknologi, warisan perjuangan, advokasi, perlindungan, dan kesejahteraan guru.

Bagian II: Tantangan, Inovasi, dan Masa Depan Pendidikan bergerak menuju persoalan yang lebih kontemporer. Di dalamnya dibahas digitalisasi dan AI, Profil Pelajar Pancasila, Merdeka Belajar, masa depan profesi guru, kesenjangan pendidikan, adaptasi kurikulum, burnout guru, kolaborasi dengan orang tua, inovasi lokal, serta pendidikan inklusif.

Bagian III: Kesejahteraan, Profesionalisme, dan Aspirasi Guru membawa pembaca pada persoalan yang dekat dengan kehidupan guru, mulai dari honorer, PPPK-PNS, sertifikasi, organisasi profesi, kesejahteraan, etika media sosial, aspirasi akar rumput, penghasilan guru, kepemimpinan, kekerasan terhadap guru, sampai kewirausahaan.

Pembagian tersebut menciptakan alur yang cukup jelas: berangkat dari sejarah, melihat tantangan masa kini, kemudian membicarakan masa depan dan kesejahteraan guru.

Kelebihan Buku

Salah satu kelebihan utama buku ini adalah cakupan pembahasannya luas. Pembaca tidak hanya mendapatkan sejarah PGRI, tetapi juga diajak melihat berbagai persoalan aktual yang dihadapi guru.

Kelebihan berikutnya adalah perspektif yang dekat dengan realitas guru. Tema guru honorer, PPPK, guru 3T, teknologi, AI, kesejahteraan, perlindungan hukum, dan etika media sosial merupakan persoalan yang relevan dengan kehidupan pendidikan kontemporer.

Gaya penyajiannya sebagai kumpulan artikel populer juga membuat topik yang sebenarnya cukup serius menjadi relatif mudah diikuti. Buku ini tidak disusun semata-mata sebagai karya akademik, tetapi sebagai ruang refleksi mengenai guru, PGRI, pendidikan, dan masa depan profesi.

Kekuatan lainnya terletak pada keberanian menghubungkan perjuangan historis dengan tantangan masa depan. PGRI tidak hanya dibicarakan sebagai organisasi yang memiliki sejarah panjang, tetapi juga sebagai organisasi yang perlu terus beradaptasi dengan perubahan teknologi, perkembangan kebijakan pendidikan, dan tuntutan profesionalisme.

Catatan terhadap Buku

Sebagai kumpulan artikel populer, buku ini memiliki cakupan tema yang sangat luas. Konsekuensinya, pembaca yang mengharapkan pembahasan akademik yang sangat mendalam mengenai setiap persoalan mungkin membutuhkan sumber lain untuk memperluas kajian pada isu tertentu.

Namun, hal tersebut sekaligus menjadi karakter buku. Tujuannya bukan memberikan kajian akademik mendalam untuk satu persoalan, melainkan menghadirkan mosaik pemikiran mengenai perjalanan, persoalan, dan masa depan guru serta PGRI. Bahkan dalam sambutan Ketua Umum PB PGRI, buku ini disebut sebagai semacam “kado intelektual” yang merekam mosaik perjuangan, keringat, air mata, dan harapan guru.

Nilai Penting Buku bagi Guru dan PGRI

Buku ini memiliki nilai reflektif yang cukup kuat bagi guru dan pengurus organisasi profesi. Guru dapat menemukan persoalan yang dekat dengan kehidupannya, sementara pengurus organisasi dapat melihat kembali posisi PGRI dalam memperjuangkan profesionalisme, perlindungan, kesejahteraan, dan aspirasi anggota.

Hal yang menarik, perspektif tersebut juga diperkuat oleh berbagai kata pengantar dalam buku. Ketua PGRI Jawa Barat, misalnya, melihat buku ini sebagai refleksi mengenai perjuangan guru di Jawa Barat dan Indonesia, dengan tema transformasi digital, guru honorer dan PPPK, Profil Pelajar Pancasila, serta keterkaitannya dengan konteks pendidikan Jawa Barat.

Sementara itu, Dewan Pembina PGRI Kabupaten Bandung Barat menempatkan tulisan-tulisan dalam buku ini sebagai suara yang merefleksikan perjuangan guru honorer, tantangan geografis, adaptasi digital, dan berbagai persoalan guru.

Kesimpulan

80 Tahun PGRI: Pilar Perjuangan, Jembatan Kesejahteraan merupakan buku yang berusaha melihat perjalanan PGRI bukan hanya dari sisi sejarah, tetapi juga dari persoalan nyata yang dihadapi guru saat ini dan tantangan yang akan dihadapi pada masa depan.

Melalui 30 artikel populer, Dr. H. Rustiyana membawa pembaca melewati berbagai tema: sejarah PGRI, identitas guru, perjuangan guru 3T, profesionalisme, advokasi, perlindungan, kesejahteraan, guru honorer, PPPK, sertifikasi, Merdeka Belajar, Profil Pelajar Pancasila, transformasi digital, AI, etika bermedia sosial, pendidikan inklusif, hingga masa depan profesi guru. Struktur tiga bagian buku membuat perjalanan gagasan tersebut bergerak dari masa lalu, masa kini, menuju masa depan.

Pada akhirnya, buku ini tidak hanya berbicara tentang 80 tahun perjalanan sebuah organisasi, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan perjalanan profesi guru itu sendiri. Sejarah memberi identitas, perjuangan memberi makna, profesionalisme memberi arah, dan kesejahteraan menjadi bagian penting dari penghargaan terhadap profesi.

Buku ini pada dasarnya mengajak kita melihat PGRI bukan hanya sebagai organisasi yang memiliki sejarah panjang, tetapi sebagai ruang perjuangan yang terus menghadapi pertanyaan baru: bagaimana guru tetap bermartabat, profesional, terlindungi, dan sejahtera di tengah perubahan pendidikan yang semakin cepat?

Dan mungkin di situlah makna paling kuat dari judul buku ini: PGRI adalah pilar yang menopang perjuangan, sekaligus jembatan yang menghubungkan sejarah perjuangan guru dengan harapan akan masa depan pendidikan dan kesejahteraan yang lebih baik.

One thought on “Resensi Buku “80 Tahun PGRI: Pilar Perjuangan, Jembatan Kesejahteraan””

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *