Oleh: Siti Zahara Nuraeni, S.Pd.
Guru SD Negeri Sirnasari Kec. Cipongkor
Sekbid Penelitian dan Pengembangan PGRI Cabang Cipongkor
“Pengalaman memberi kita arah, gagasan baru memberi kita kemungkinan. Ketika keduanya bertemu, pendidikan memiliki kesempatan untuk melangkah lebih jauh.”
Di sebuah ruang guru, dua generasi pendidik duduk dalam satu meja, yang satu telah melewati puluhan tahun perjalanan mengajar. Ia telah menyaksikan berbagai perubahan kurikulum, berganti generasi murid, menghadapi beragam karakter orang tua, dan mengalami masa ketika papan tulis masih menjadi pusat pembelajaran.
Di sebelahnya duduk seorang guru muda. Ia tumbuh bersama internet. Laptop dan telepon pintar bukan sesuatu yang asing baginya. Ia terbiasa mencari referensi pembelajaran melalui dunia digital, mencoba berbagai aplikasi, membuat media pembelajaran, bahkan mulai mengenal kecerdasan buatan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Mereka berasal dari zaman yang berbeda, namun mereka memiliki satu kesamaan yaitu ”Keduanya memilih menjadi guru”. Dan di situlah sebuah pertemuan yang menarik sebenarnya dimulai.
Dua Generasi, Dua Kekuatan
Sering kali kita melihat perbedaan generasi sebagai sesuatu yang harus dipertentangkan. Guru senior dianggap terlalu nyaman dengan cara lama. Guru muda dianggap terlalu cepat ingin mengubah sesuatu. Guru senior mungkin berkata, “Dulu kami mengajar dengan cara seperti ini dan murid-murid tetap bisa berhasil.” Guru muda mungkin berpikir,“Tetapi zaman murid sekarang sudah berbeda.”
Keduanya tidak sepenuhnya salah. Guru senior memiliki pengalaman. Guru muda membawa energi dan gagasan baru. Guru senior memahami bahwa pendidikan bukan hanya tentang metode, tetapi juga tentang manusia. Guru muda memahami bahwa perubahan zaman menuntut keberanian untuk mencoba.
Jika keduanya saling berhadapan, perbedaan bisa menjadi jarak. Tetapi jika keduanya saling mendengarkan, perbedaan dapat menjadi kekuatan.
Pengalaman Tidak Boleh Hilang
Ada pengetahuan yang tidak selalu tertulis dalam buku, bagaimana menghadapi murid yang sedang kehilangan semangat?, bagaimana berbicara dengan orang tua yang sedang kecewa?, bagaimana mengetahui bahwa seorang murid sebenarnya sedang memiliki masalah hanya dari perubahan ekspresi wajahnya?, bagaimana mengelola kelas ketika rencana pembelajaran tidak berjalan sesuai harapan?.
Semua itu sering kali lahir dari pengalaman, guru senior telah melewati banyak situasi yang mungkin belum pernah dialami guru muda. Karena itu, pengalaman mereka adalah aset yang sangat berharga.
Bayangkan jika pengalaman puluhan tahun tersebut hanya berhenti pada satu orang?, sayang sekali kan?. Akan jauh lebih bermakna jika pengalaman itu ditularkan kepada generasi berikutnya. Bukan dalam bentuk ceramah panjang,tetapi melalui percakapan, melalui pendampingan, melalui berbagi cerita., melalui kalimat sederhana seperti: “Dulu saya pernah menghadapi masalah seperti itu, coba kita pikirkan bersama.”
Gagasan Baru Juga Tidak Boleh Dicurigai
Namun, percakapan itu harus berjalan dua arah. Guru muda juga membawa sesuatu yang sangat berharga. Mereka hidup dalam lingkungan yang berbeda, mereka lebih dekat dengan perkembangan teknologi digital, mereka mengenal berbagai platform pembelajaran, mereka memiliki keberanian mencoba sesuatu yang mungkin belum pernah dilakukan sebelumnya, ketika seorang guru muda berkata,
“Bagaimana kalau kita mencoba menggunakan teknologi ini?”
Respons yang paling baik mungkin bukan:
“Cara lama juga sudah cukup.”
Tetapi:
“Coba kita lihat, apakah cara itu dapat membantu murid kita?”
Karena inovasi tidak selalu berarti meninggalkan yang lama, terkadang inovasi justru berarti mengambil sesuatu yang baik dari masa lalu, lalu mengemasnya agar sesuai dengan kebutuhan hari ini.
Bukan Senior Melawan Muda
Kita perlu berhenti menggunakan pola pikir Senior versus muda. Yang lebih sehat adalah Senior bersama muda.
Guru senior tidak harus menjadi guru yang selalu paling tahu, guru muda juga tidak harus menjadi guru yang selalu paling modern. Keduanya adalah pembelajar, guru senior dapat belajar teknologi dari guru muda, guru muda dapat belajar kebijaksanaan dari guru senior. Guru senior berbagi pengalaman, guru muda berbagi perspektif. Guru senior mengingatkan agar perubahan tetap memiliki arah, guru muda mengingatkan bahwa perubahan memang harus berani dimulai. Inilah kolaborasi yang sesungguhnya.
Bagaimana Jika PGRI Menjadi Jembatan?
Di sinilah organisasi profesi seperti PGRI memiliki ruang yang sangat besar, PGRI dapat menjadi jembatan antargenerasi guru, bukan hanya tempat berkumpul, bukan hanya tempat menyelenggarakan kegiatan, tetapi tempat bertemunya pengalaman dan gagasan.
Bayangkan sebuah program sederhana:
“Guru Senior Berbagi, Guru Muda Berinovasi.”
Dalam satu pertemuan, guru senior berbagi pengalaman mengelola kelas, kemudian guru muda menunjukkan bagaimana teknologi dapat membantu pengelolaan dan pembelajaran. Guru muda membawa gagasan baru, guru senior memberikan perspektif berdasarkan pengalaman, tidak ada yang menjadi murid selamanya, tidak ada yang menjadi guru selamanya, karena dalam komunitas yang sehat, setiap orang dapat menjadi guru sekaligus pembelajar.
Mari Duduk di Meja yang Sama
Mungkin perubahan besar dalam pendidikan tidak selalu dimulai dari sebuah seminar besar, tidak selalu membutuhkan gedung megah, tidak selalu membutuhkan teknologi yang mahal, kadang-kadang perubahan dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana:
Dua guru yang mau duduk di meja yang sama dan saling mendengarkan.
Guru senior bertanya:“Apa yang sedang kamu coba lakukan?”
Guru muda menjawab:“Saya sedang mencoba cara baru agar murid lebih tertarik belajar.”
Kemudian, guru senior berkata:“Coba ceritakan, mungkin saya punya pengalaman yang bisa membantu.”
Dari percakapan kecil itu, lahirlah kolaborasi, dari kolaborasi lahirlah pembelajaran, dan dari pembelajaran lahirlah perubahan.
Karena Murid Tidak Peduli Kita Generasi Apa
Pada akhirnya, ada satu hal yang seharusnya menyatukan semua guru, yaitu murid. Murid tidak terlalu peduli apakah gurunya lahir pada tahun berapa, murid membutuhkan guru yang mampu membimbingnya, murid membutuhkan guru yang mau memahami dunianya, murid membutuhkan guru yang memiliki pengetahuan sekaligus kebijaksanaan, mereka membutuhkan guru yang mampu menggunakan teknologi ketika teknologi memang membantu.
Tetapi mereka juga membutuhkan guru yang mampu meletakkan teknologi ketika yang dibutuhkan adalah percakapan manusia, karena pendidikan pada akhirnya bukan hanya tentang perangkat, bukan hanya tentang aplikasi, bukan hanya tentang metode. Pendidikan adalah tentang manusia yang bertemu dengan manusia lainnya.
Pada Akhirnya, Kita Semua Akan Menjadi Guru Senior
Ada satu hal yang kadang kita lupa. Guru muda hari ini suatu saat akan menjadi guru senior. Apa yang kita lakukan terhadap guru senior hari ini mungkin akan menjadi budaya yang kita terima di masa depan, jika hari ini kita memilih mendengarkan, kelak kita juga akan didengarkan, jika hari ini kita memilih berbagi, kelak pengalaman kita juga akan menjadi bekal bagi generasi berikutnya.
Maka tidak perlu ada perlombaan siapa yang paling hebat, tidak perlu ada pertanyaan siapa yang paling modern, tidak perlu ada pertarungan antara pengalaman dan inovasi, karena pendidikan tidak membutuhkan generasi yang saling mengalahkan. Pendidikan membutuhkan generasi yang saling melengkapi.
Guru senior membawa cerita dari perjalanan Panjang, guru muda membawa keberanian menuju masa depan, dan ketika keduanya berjalan bersama, pendidikan tidak harus memilih antara pengalaman atau inovasi.
Kita dapat memiliki keduanya, sebab pada akhirnya, yang paling penting bukanlah siapa yang berdiri paling depan, melainkan apakah kita berjalan menuju tujuan yang sama yaitu membantu murid tumbuh menjadi manusia yang berpengetahuan, berkarakter, mandiri, dan mampu menghadapi zamannya.
Jadi……Apakah kita sudah benar-benar duduk di meja yang sama?
Sebab mungkin, perubahan pendidikan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Bisa jadi, ia dimulai dari dua guru yang memilih untuk saling mendengarkan..



Luar biasa Bu. “Pengalaman memberi arah, gagasan baru memberi kemungkinan.” Kalimat ini akan saya ingat terus. Sebagai guru muda, saya siap duduk di meja yang sama, mendengarkan, dan berjalan bersama. Terima kasih inspirasinya, Bu Zahara
Sebuah pemahaman dan pemikiran yang bijaksana untuk memajukan pendidikan
Sebuah pemikiran yang bijak… Saya sangat setuju dengan apa yang ibu tulis. Semangat terus menginspirasi.
Sungguh pemikiran yang sangat memotivasi sejatinya ketika kita berjalan bersama menuju tujuan yang sama dengan pemikiran yang mendukung satu sama lain, maka akan terciptanya sebuah kekuatan baru untuk memajukan pendidikan
Keren, luar biasa sangat mengisnpirasi….. Tetap semangaaaat
Sangat mengispirasi… Semangat…semangaaat