Menjawab Tantangan Menulis Puisi di Sekolah

Oleh: Tuti Kartika, M. Pd.

Menulis Puisi bukanlah hal yang mudah dilakukan. Apalagi oleh penulis pemula. Dalam keterampilan menulis puisi dibutuhkan kemauan dan keteguhan hati. Sering penulis mendengar keluhan dalam menulis puisi, mulai dari alasan sulitnya memulai, tidak ada ide, bingung mulai menulis dari mana.  

Menjawab tantangan itu, penulis menemukan sebuah peluang dan solusi untuk masalah di atas yang sudah penulis terapkan di jenjang SD. Yaitu menulis puisi akrostik. Untuk mengetahui apa itu puisi akrostik. Berikut penulis tuliskan dahulu latar belakang penulis mengenal puisi akrostik.

Pada tahun 2025,  pertama kali penulis  menerima tantangan untuk mengedit buku karya puisi akrostik dari Perpustakaan SMAN 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat. Karya puisi yang diamanahkan merupakan hasil tulisan siswa-siswi kelas X tahun ajaran 2024-2025, inilah awal mula penulis mulai memahami, makna dari sebuah nama yang berbentuk puisi. Puisi ini sering disebut dengan Puisi Akrostik.

Puisi Akrostik adalah puisi yang huruf pertama dari setiap barisnya, jika di baca secara vertikal dari atas ke bawah, akan membentuk sebuah kata, nama, atau pesan tertentu. Kata tersebut biasanya merupakan topik atau judul dari puisi itu sendiri.

Kehadiran puisi akrostik dalam kehidupan penulis menjadi sebuah solusi untuk menjawab keluhan Bagaimana memulai menulis puisi? Puisi akrostik yang dibuat difokuskan pada nama sendiri. Hal itu diyakini penulis dapat memudahkan dan memberikan ide pada siswa-siswi untuk berekspresi dalam menulis puisi. Puisi yang ditulis disesuaikan dengan sifat dan karakter sendiri. Siswa-siswi terfokus pada diri, lebih memperhatikan kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri. Tentu saja, itu jauh lebih jujur dan apa adanya. Siswa-siswi dapat menulis puisi dengan lebih mudah dan menyenangkan tidak ada beban lagi.

Berangkat dari pengalaman menjadi editor dengan 12 karya buku puisi akrostik itulah, penulis memberanikan diri untuk menerapkan puisi akrostik di tempat penulis bekerja. Sebelum memulai menerapkan menulis puisi di SD, sebelumnya penulis berdiskusi dahulu dan sekaligus meminta ijin secara langsung kepada pencetus ide puisi akrostik di SMAN 1 Cisarua, ibu Hj. Risna Rosida, M. Pd., untuk menerapkan idenya membuat puisi akrostik di jenjang sekolah dasar. Sekolah Dasar yang menjadi objek menulis puisi akrostik adalah SDN 2 Cipanas Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Braat,  tempat penulis bekerja. Kelas yang menjadi objek adalah murid-murid kelas 2 dan 5.  

Latar belakang pemilihan kelas 2 dan kelas 5 sebagai objek penulis dalam menulis puisi akrostik adalah tantangan dari kepala sekolah dalam program literasi sekolah, yaitu Rabu Basaras atau Program hari Rabu membaca bersama di teras kelas. Rabu Basaras berkembang menjadi Rabu membaca bersama adik. Untuk Rabu membaca bersama adik, penulis mendapat tantangan baru,  yaitu kurangnya buku bacaan untuk siswa-siswi SDN 2 Cipanas. Anak-anak sudah merasa bosan dan jenuh dengan koleksi buku yang ada. Kebanyakan bukunya sudah dibaca. Permasalahan inilah yang akhirnya menjadi tantangan baru yang harus diprioritaskan. Membuat bahan bacaan anak dengan cepat dan juga sesuai dengan kebutuhan anak agar anak-anak tidak merasa bosan dengan koleksi buku yang ada.

Berangkat dari permasalah di atas, kolaborasi pembelajaran dilakukan wali kelas 2 dan 5 dalam pengadaan buku bacaan. Sebagai penggagas peluncuran buku ini, penulis menyusun konsep agar ide bisa direalisasikan. Jika awalnya hanya sebatas baca bersama kakak adik di teras kelas, kemudian dikembangkan mejadi menulis bersama adik kelas.

Penulis membagi tugas. Wali kelas 2 dan 5 bertukar mengajar untuk pelajaran bahasa Indonesia dan Matematika. Wali kelas 5 mengajar di kelas 2 untuk pelajaran Matematika dan guru kelas 2 mengajar khusus untuk pelajaran bahasa Indonesia di kelas 5 dan 2 selama 4 kali pertemuan.

Di kelas 2 ada pelajaran membuat puisi, di kelas 5 ada pelajaran tentang buku. Kedekatan materi ini dimanfaatkan penulis untuk menjawab beberapa tantangan sekolah dalam literasi, yaitu membaca bersama, menulis bersama, menyusun buku bersama yang kemudian hasil karyanya diserahkan ke perpustakaan untuk melengkapi koleksi buku perpustakaan yang selama ini menjadi tantangan karena kekurangan koleksi bukunya. Hasil dari kolaborasi ini melahirkan karya buku Kumpulan Puisi Akrostik 25 yang diberi judul “Arti Sebuah Nama Kumpulan Puisi Akrostik 25” Karya guru, siswa dan orang tua.

Pemilihan judul dilakukan berdasarkan pada isi dari buku yang merupakan kumpulan nama. Buku yang disusun penulis diberi judul Arti Sebuah Nama ini menjadi jawaban atas keraguan yang sempat berkecamuk dalam pikiran penulis saat membaca novel William Shakespeare yang pernah bertanya dalam karyanya Romeo and Juliet: “What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet”. Apa arti sebuah nama? Bunga mawar yang kita sebut dengan nama lain pun akan tetap harum.

Dengan pembelajaran menulis puisi akrostik ini, penulis mendapatkan pelajaran bahwa sebuah nama bukanlah sekedar rangkaian huruf. Nama adalah do’a, nama adalah amanah, nama adalah harapan, nama adalah cerita yang tidak ada dalam cerita orang lain. Setiap nama punya harapannya sendiri. Nama, jika dijaga akan tumbuh menjadi karakter dan karakter itulah yang mengubah segalanya.

Selain itu, kelahiran buku sederhana ini telah memberikan banyak jawaban untuk permasalahan litersi disekolah, terkait buku bacaan anak, koleksi buku diperpustakaan sampai pada tantangan utama dari literasi sekolah Rabu Basaras, yaitu membaca bersama adik, bahkan lebih jauh telah menjawab tantangan menulis bersama adik.

“Arti Sebuah Nama Kumpulan Puisi Akrostik 25” telah memberikan kontribusi positif pada kemajuan literasi sekolah dengan mendokumentasikan karya dan menyimpannya sebagai pelengkap dari koleksi buku di perpustakaan sekolah.

Akhir kata dari penulis, terima kasih. Semoga kegiatan ini bisa menginspirasi.

*Penulis adalah Guru SD kelas 2 Di SDN 2 Cipanas Kabupaten Bandung Barat. Di PGRI Cabang Cisarua beliau bertugas di Bidang Organisasi & Kaderisasi Organisasi PGRI Cabang Cisarua Kabupaten Bandung Barat. Penulis lebih dikenal sebagai penulis dan editor buku, penggiat literasi sekolah. Karya tulis penulis sudah tercatat diperpusnas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *